Kyla dan Kaufan sampai di salah satu kedai Mi Ayam pada pukul 20.21 WIB. Hujan gerimis jatuh malam hari itu juga, membuat beberapa bagian dari baju mereka basah dan dingin. Sang pedagang menghentikan aktivitasnya, terlihat sedang menghitung uang penghasilan hari ini, dirinya menatap Kyla dan Kaufan terutama saat mereka berdua mendekat ke arah gerobak biru tuanya.
“Bang, dua mangkok, ya?” Pinta Kyla, sambil terlihat merapikan baju dan rambutnya. Kaufan yang berdiri di belakang gadis itu melakukan hal serupa, mengacak-acak rambutnya sendiri agar cepat mengering.
“Yah, habis neng, tinggal sisa satu mangkok.” Jawab beliau. Kyla membalikan tubuhnya, berusaha berdiskusi dengan lelaki yang anteng berdiri sambil mengamati langit hitam.
“Fan, tinggal satu mangkok, nih, gimana? Mau cari ke tempat lain, aja?”
“Yah Kil, kayaknya gak bisa hujannya makin deres ini udah bukan gerimis.” Mendengar jawaban Kaufan, Kyla harus setuju. Namun, dia tetap tidak mendapatkan jawaban tentang porsinya.
“Lu aja yang makan, Kyl, gua masih kenyang kok.”
“Masa gue, sih? Lo aja deh, Fan, gue kan kesini udah sering kesini. Tujuan kesini juga supaya lo makan mi ayam yang gue suka.” Jawab Kyla. Kaufan nggak buru-buru menanggapi. Dirinya tetap berpikir mencari jawaban terbaik.
“Berdua aja gimana?”
Kyla menaikan satu alisnya mendengar usulan yang keluar dari mulut Kaufan.
“Masa berdua?”
“Kenapa masa?”
“Lo mau?” Kyla berusaha mengonfirmasi.
“Gua yang nawar, berarti gua yang mau. Sekarang lu nya mau nggak?”
Kyla diam, ekor matanya kesana-kemari terlihat ikut berpikir, dia ragu tentang Kaufan yang mungkin akan tidak nyaman. Namun laki-laki itu kembali bersuara.
“Diem artinya mau, kan?”
Kyla tersenyum geli, paksaannya bisa dia olah menjadi sesuatu yang lebih halus. Kemudian, Kyla setuju.
“Mau, Fan.”