Kyla menepati janjinya. Dirinya pergi menuju tempat bernama Akaroma pukul 17.00 sore hari dengan penampilam terbaiknya. Tidak terlalu sederhana tapi tidak bisa juga disebut berlebihan. Rambutnya dia biarkan tergerai panjang menutupi bagian bahunya yang sedikit terbuka. Akan Kaufan sebut aurat mungkin jika dirinya bisa menilai. Tapi, Kyla cenderung tidak peduli, penampilannya tidak untuk siapa-siapa. Toh dia juga membawa outer lain sebagai penutup.
“Nanti gue chat kalau udah beres!” Kyla mengintruksikan kakak laki-lakinya sambil sibuk dengan urusan helmetnya.
“Jangan malem-malem amat minta jemput. Kalau gua gak bales berarti tidur.”
“Ya jangan dnd dong!”
“Iya lu jangan kemaleman.”
“Iya aih! Bawel. Ini lihatin dong rambut gue acak-acakan gak?”
“Udah udah, sono masuk.”
Kyla masuk ke dalam area coffee shop melalui pintu kaca. Tempatnya yang luas membuat ekor mata Kyla mencari-cari keberadaan kawannya yang lain. Namun, ketika dirinya baru saja mengirimi text ke dalam grup yang diberi nama Jujur tersebut, Kaufan mengiriminya pesan secara personal.
Kyla membaca text yang Kaufan kirim
Sini Kil, kursi sofa paling pojok.
Begitu katanya. Tidak perlu menggunakan waktu terlalu banyak untuk Kyla menemukam meja yang Kaufan maksud. Kyla hanya boleh melangkah sedikit lalu dia sudah bisa menemukam Kaufan di ujung sana. Dia berdiri, masih dengan seragam putihnya dan tas hitamnya. Seragamnya sudah tidak terlalu rapi, dua kancing atas terbuka, kaos putih yang ada di dalamnya bisa dilihat siapa saja. Celana abu-abunya tertutup oleh seragam putih yang keluar berantakan. Rambut hitamnya juga agak messy.
Kyla sedikit kikuk, karena faktanya, Kaufan adalah satu-satunya orang yang ada di sana. Setelah Kyla menghampiri laki-laki itu, dia dengan tenang duduk berhadapan dengannya, dan Kaufan juga melakukan hal yang sama.
“Kok belum pada datang ya? Katanya jam 5?”
Kaufan menjawab dengan gestur tubuhnya. Kedua telapak tangannya terbuka. Dia mengangkat keduanya bersamaan dengan bahu yang juga naik.
“Macet kali?”
“Di grup gak ada yang jawab!”
Kaufan diam, memperhatikan Kyla yang masih sibuk dengan ponselnya. Sejak gadis itu datang, dirinya benar-benar menyita perhatian kedua mata Kaufan. Membuat dirinya menyesal kalau seharusnya Kaufan juga memilih pulang untuk sekedar membenahi diri.
“Gue kira lo pulang?”
“Males. Jadi gua langsung kesini.”